
Fenomena ramalan kartu tarot kini bergeser dari kesan mistis menjadi tren gaya hidup, terutama di kalangan Generasi Z (Gen Z). Bagi banyak anak muda, kartu-kartu ini bukan sekadar gambar, melainkan media untuk mengurai kegelisahan hidup.
Psikolog klinik dari Universitas Airlangga (Unair) Dian Kartika Amelia Arbi, M.Psi., menjelaskan bahwa ketertarikan Gen Z pada tarot sering kali muncul sebagai respons saat mereka merasa tidak berdaya menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Dalam perspektif psikologi, individu cenderung mencari penjelasan eksternal untuk mendapatkan rasa tenang.
Tarot menawarkan narasi yang dapat mengurangi kecemasan karena memberikan bayangan atau prediksi tentang masa depan. Hal ini kemudian menjadi salah satu bentuk coping mechanism (mekanisme koping) bagi mereka yang merasa kesulitan memprediksi arah hidupnya.










