![[Judul 1]](https://suaraberita.co.id/wp-content/uploads/2026/03/featured_1773897009902.jpg)
Bagi Gen Z, mudik bukan sekadar pulang kampung, tapi juga momen untuk healing dan berkumpul keluarga. Namun bagi pengidap Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), perjalanan jauh bisa menjadi tantangan fisik yang besar. Apalagi jika mudik dilakukan saat masih menjalankan ibadah puasa.
Perubahan pola makan, kelelahan, hingga stres akibat kemacetan panjang sering kali menjadi pemicu utama naiknya asam lambung ke kerongkongan. Kondisi ini, yang secara medis dikenal sebagai refluks, sering kali menimbulkan sensasi terbakar di dada (heartburn) hingga rasa pahit di mulut.
Spesialis penyakit dalam subspesialis gastroenterologi hepatologi Dr dr Hasan Maulahela, SpPD, SubspGEH (K), menjelaskan saat mudik, banyak orang cenderung terburu-buru saat makan sahur atau berbuka karena mengejar waktu perjalanan.












