
Keputusan sejumlah daerah untuk tidak menggelar pesta kembang api besar pada malam Tahun Baru 2026 menuai beragam respons publik. Ada yang merasa kehilangan euforia pergantian tahun, sementara yang lain menilai perayaan tanpa gemerlap terasa kurang lengkap. Namun dari sudut pandang kesehatan mental, kebijakan ini dapat dimaknai sebagai bentuk empati dan dukungan psikologis kolektif, terutama di tengah suasana duka pasca-bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan masih menyisakan tekanan emosional bagi banyak keluarga terdampak.
Di tengah konteks tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah perayaan dengan suara keras dan keramaian besar selalu membawa dampak positif bagi kondisi psikologis masyarakat terutama saat sebagian orang masih berada dalam fase berduka dan pemulihan emosional? Nyatanya, bagi sebagian individu, stimulus berlebihan justru dapat memperberat beban mental.
Tidak semua orang memaknai Tahun Baru sebagai momen bahagia. Bagi sebagian orang, suara kembang api yang keras, kerumunan besar, dan ekspektasi sosial untuk “harus bersenang-senang” justru memicu stres, kecemasan, hingga rasa terasing kondisi yang dalam psikologi dikenal sebagai social pressure.










