
Intermittent fasting atau puasa intermiten lebih dari sekadar membantu mengurangi lingkar pinggang. Pola makan ini juga dikaitkan dengan peningkatan fungsi otak, daya ingat yang lebih tajam, serta ketahanan mental yang lebih baik.
Menurut studi tahun 2017 yang diterbitkan di Nature Reviews Neuroscience, intermittent fasting dapat meningkatkan plastisitas sinaptik, memperkuat ketahanan terhadap stres, dan menurunkan peradangan, sehingga berdampak positif pada fungsi kognitif. Ulasan tersebut menjelaskan bahwa intermittent fasting merangsang produksi BDNF (brain-derived neurotrophic factor), molekul penting yang berperan dalam pembelajaran, memori, dan ketahanan neuron.
Tingkat BDNF yang tinggi membantu neuron membentuk koneksi yang lebih kuat, membuat otak lebih mudah beradaptasi dan lebih tajam seiring waktu.












